UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
MELALUI METODE INQUIRY
Oleh
ANA ESPRIATNA
Program
Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
STKIP Bina Mutiara Sukabumi
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan
metode Inquiri dapat meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam pada siswa Kelas
IV di Sekolah Dasar Negeri Cibodas Desa Cibodas Kecamatan Palabuhanratu Kabupaten
Sukabumi. Setelah diterapkan Metode Inkuiri hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa Kelas IV di Sekolah Dasar Negeri Cibodas Kecamatan Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi meningkat dari siklus pertama kesiklus kedua. Hal ini ditujukan pada siklus pertama dengan nilai
rata-rata mencapai 69,80 dan terjadi peningkatan pada siklus kedua nilai
rata-rata mencapai 86,48.
Serta ketuntasan secara klasikal pada siklus pertama mencapai 68% sedangkan pada siklus kedua meningkat mecapai 88%.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan
Metode Inkuiri ini dapat meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam pada siswa Kelas
IV Sekolah Dasar Negeri Cibodas Kecamatan Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi, serta dapat meningkatkan kinerja guru dan prilaku siswa.
Kata Kunci :
Hasil Belajar, Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, Metode Inquiri.
EFFORTS
TO IMPROVE STUDENT LEARNING OUTCOMES
SUBJECT
OF NATURAL SCIENCE
METHOD
THROUGH INQUIRY
By
ANA
ESPRIATNA
Study program Elementary School Teacher
STKIP Bina Mutiara
Sukabumi
ABSTRACT
This study aims to
determine whether the application of Enquiry method can improve learning
outcomes Natural Sciences in Class IV student at State Primary School Cibodas
Palabuhanratu Cibodas Village District of Sukabumi. Once applied method of
inquiry learning outcomes Natural Sciences Class IV student at State Primary
School Cibodas Palabuhanratu District of Sukabumi increased from the first
cycle kesiklus second. It is aimed at the first cycle with the average value
reached 69.80 and increased in the second cycle the average value reached
86.48. As well as the completeness classically in the first cycle reaches 68%,
while in the second cycle increased mecapai 88%.
It can be concluded
that the application of the method of this inquiry to improve learning outcomes
of students of Natural Sciences at the State Elementary School Fourth Grade
Cibodas Palabuhanratu District of Sukabumi, and can improve teacher performance
and student behavior.
Keywords:
Results of Study, Subjects of Natural Science, Methods of Enquiry.
1.
PENDAHULUAN
Pendidikan
merupakan proses memproduksi sistem nilai dan budaya kearah yang lebih baik,
antara lain dalam pembentukan kepribadian, keterampilan dan perkembangan
intelektual siswa. Dalam lembaga formal proses reproduksi sistem nilai dan
budaya ini dilakukan terutama dengan mediasi proses belajar mengajar sejumlah
mata pelajaran di kelas. Salah satu mata pelajaran yang turut berperan penting
dalam pendidikan wawasan, keterampilan dan sikap ilmiah sejak dini bagi anak
adalah mata pelajaran IPA.
Ilmu
pengetahuan alam adalah pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam
semesta dengan segala isinya. IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang
disusun secara sistematis oleh manusia yang didasarkan pada hasil percobaan dan
pengamatan yang dilakukan manusia. Pembelajaran IPA berupaya membangkitkan
minat manusia agar mau meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya tentang alam
seisinya yang penuh rahasia yang tak habis-habisnya. Khusus untuk IPA di SD
hendaknya membuka kesempatan untuk memupuk rasa ingin tahu siswa secara
alamiah.
Pembelajaran
inquiry bertujuan untuk memberikan
cara bagi siswa untuk membangun kecakapan-kecakapan intelektual (kecakapan berfikir)
terkait dengan proses-proses berfikir reflektif. Jika berpikir menjadi tujuan
utama dari pendidikan, maka harus ditemukan cara-cara untuk membantu individu
untuk membangun kemampuan itu.
Sebagian
besar guru memberikan materi berupa konsep-konsep baru yang harus dihafal oleh
siswa tanpa terlebih dahulu mengaitkan dengan konsep-konsep yang telah mereka
miliki sebelumnya. Hal ini patut diduga bahwa metode yang digunakan oleh guru
mesih perlu ditingkatkan lagi karena pembelajaran yang biasa sulit untuk
dicerna oleh siwa, maka perlunya variasi-variasi dalam metode pembelajaran yang
harus diterapkan oleh setiap guru dikelasnya.
Dengan
demikian jelas bahwa tahap berfikir anak usia SD harus dikaitkan dengan hal-hal
nyata dan pengetahuan awal siswa yang telah dibangun mereka dengan sendirinya.
Pada saat pembelajaran IPA di kelas 4 SD Negeri Cibodas tidak jarang guru
langsung menulis materi di papan tulis, kemudian siswa disuruh mencatat materi
tersebut, setelah siswa mencatat guru langsung menjelaskan materi, atau bahkan
siswa langsung disuruh mencatat materi tanpa ada penjelasan dari guru tersebut,
sehingga membuat para siswa sulit memahami apa yang mereka pelajari pada saat
itu.
Gambaran
permasalahan di atas menunjukkan bahwa pembelajaran IPA perlu diperbaiki guna
meningkatkan pemahaman konsep siswa. Untuk itu diperlukan solusi yang tepat
untuk mengatasi masalah tersebut sehingga mendorong peneliti untuk mengkaji
inovasi pengajaran dan pembelajaran untuk memacu keberhasilan siswa dalam
pembelajaran IPA di kelas IV di Sekolah Dasar Negeri Cibodas Desa Cibodas
Kecamatan Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi.
Dengan
demikian upaya meningkatkan hasil belajar IPA, membutuhkan sebuah metode yang
disebut metode inquiry agar siswa
lebih aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran serta memudahkan siswa untuk
menerima materi yang disampaikan guru.
Penyebab
hasil belajar IPA rendah dapat dilihat dari komponen penting dalam proses
belajar mengajar yakni : kemampuan guru, metode pembelajaran yang digunakan,
kemampuan siswa, lingkungan tempat belajar, media pembelajaran, materi
pembelajaran.
Komponen
yang menonjol yang menjadi penyebab rendahnya hasil belajar dalam materi adalah
kurang bervariasinya guru dalam menggunakan metode pembelajaran. Dengan adanya
guru menggunakan pendekatan atau metode yang bervariasi siswa akan lebih banyak mengikuti pelajaran IPA
dengan senang dan gembira sehingga minatnya dalam mempelajari IPA semakin
besar. Siswa akan senang tertarik, terangsang dan bersikap positif terhadap
pembelajaran IPA.
2.
METODE PENELITIAN
Alasan
rasional penggunaan pembelajaran dengan pendekatan inquiry rasional penggunaan pembelajaran dengan pendekatan inquiry yakni siswa akan mendapatkan
pemahaman yang lebih baik mengenai IPA dan akan lebih tertarik terhadap IPA
jika mereka dilibatkan secara aktif dalam “melakukan” penyelidikan. Investigasi
yang dilakukan oleh siswa merupakan tulang punggung pembelajaran dengan
pendekatan inquiry. Investigasi ini
difokuskan untuk memahami konsep-konsep IPA dan meningkatkan keterampilan
proses berpikir ilmiah siswa. Sehingga diyakini bahwa pemahaman konsep
merupakan hasil dari proses berpikir ilmiah tersebut.
Dalam
mengembangkan sikap inquiry di kelas,
guru mempunyai peranan sebagai konselor, konsultan, dan teman yang kritis. Guru
harus dapat membimbing dan mereflesikan pengalaman kelompok melalui tiga tahap
: (1) tahap problem soving atau tugas; (2) tahap pengelolaan kelompok; (3)
tahap pemahaman secara individual, dan pada saat yang sama guru sebagai
instruktur harus dapat memberikan kemudahan bagi kerja kelompok, melakukan
intervensi dalam kelompok, dan mengelola kegiatan pengajaran.
Standsar
kompetensi yang dikembangkan dalam kirikulum berbasis kompetensi, merupakan
standar minimal pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dicapai dan
mampu dilakukan oleh siswa pada setiap tingkatan dalam suatu mata pelajaran.
Standar komptensi untuk bidang sains pada jenjang SMA ditekankan pada kemampuan
bekerja ilmiah, dan kemampuan memahami
konsep – konsep sains serta penerapannya dalam kehidupan. Kemampuan bekerja
secara ilmioah harus didukung oleh perkembangannya rasa ingin tahu, kemauan
bekerja sama, dan keterampilan berpikir kritis. Kemampuan memahami konsep –
konsep sains dan menerapkannya dalam kehidupan dapat dikembangkan melalui
proses belajar siswa langsung dan aktif melalui penggunaan dan pengembangan
keterampilan proses dan sikap ilmiah.
Pendekatan
pembelajaran sains hendaknya tidak lagi terlalu berpusat pada guru melainkan
harus lebih berorientasi pada siswa. Peranan guru perlu bergeser dari
menentukan “apa yang harus dipelajari” menjadi “bagaimana menyediakan dan
memperkaya pengalama elajar siswa.” Pengalaman belajar bagi siswa dapat
diperoleh melalui rangkaian kegiatan dalam mengeksplorasikan lingkungan melalui
interaksi aktif dengan teman sejawat dan seluruh lingkungan belajarnya. Untuk
itulah perlunya dilakukan pengembangan pembelajaran sains di sekolah dengan
mempertimbangkan :
1)
Empat polar yang direkomendasikan oleh
UNESCO yaitu belajar dengan melakukan (learning to do), belajar untuk menjadi
(learning to be), dan belajar untuk hidup genhan bekerja sama (learning to live
together);
2)
Inquiry
atau bertanya dalam rangka memperoleh ilmu dan pengetahuan atas dasar ingin
tahun (curiosity);
3)
Pemecahan masalah;
4)
Konstruktifme sebagai landasan filosofis
pembelajaran
3.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil observasi selama
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada siklus I, ada beberapa hal yang perlu
yang masih harus diperhatikan dan diperbaiki untuk rencana tindakan pada siklus
berikutnya. Oleh karena itu, peneliti dan observer melakukan refleksi dengan
tujuan untuk menemukan penyeleseian terbaik yang akan digunakan pada tindakan
selanjutnya. Pada siklus I diketahui nilai rata-rata hasil
belajar Ilmu Pengetahuan Alam yang diperoleh siswa sebesar 69,80. Nilai
rata-rata hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada siklus ini
lebih besar dari KKM yang telah ditentukan sebesar 60. Bila dibandingkan dengan
nilai pada Pra-Siklus Ilmu Pengetahuan Alam sebelumnya, nilai rata-rata hasil
belajar Ilmu Pengetahuan Alam pada siklus I mengalami peningkatan dari nilai
Pra-Siklus Ilmu Pengetahuan Alam sebesar 63,60.
Ketercapaian nilai hasil belajar mata
pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yang dicapai siswa pada siklus I sebesar 68%.
Sedangkan nilai hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam yang belum dicapai pada
siklus I sebesar 32%. Secara klasikal siswa belum tuntas dalam pembelajaran
Ilmu Pengetahuan Alam masih belum mecapai Kiteria Ketuntasan Minimal (KKM),
Untuk itu penelitian ini akan dilanjutkan dengan mengadakan perbaikan lagi pada
Siklus II. Berdasarkan hasil observasi selama
pelaksanaan pada siklus II, diperoleh data bahwa
mahasiswa atau peniliti telah berhasil menerapkan pembelajaran dengan metode Inkuiry. Hasil pengamatan yang diperoleh
observer pada siklus II diantaranya kinerja guru dan aktivitas siswa dalam
pembelajaran sudah lebih baik dibandingkan dengan siklus pertama. Hasil
pengamatan terhadap kinerja guru dan perubahan aktivitas siswa selama
pembelajaran pada siklus II sudah dapat dikategorikan sangat baik.
Nilai rata-rata hasil mata pelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam pada siklus I sebesar 69,80
dan pada siklus II sebesar 86,48.
Dengan demikian penelitian tindakan kelas cukup sampai disini dan tidak perlu
dilakukan siklus berikutnya.
4.
PENUTUP
Berdasarkan
pembahasan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Penggunaan metode Inkuiry dapat
meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam Kelas IV Sekolah Dasar Negeri
Cibodas Kecamatan Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi Semester 2 Tahun Pelajaran
2014/2015. Hal ini ditujukkan dengan adanya keberhasilan dari kemajuan yang
bermakna pada setiap siklusnya. Rata-rata hasil belajar prasiklus adalah 63,60 dengan ketercapaian ketuntasan hasil belajar 32% dari jumlah siswa yang mencapai KKM 60,
kemudian terjadi peningkatan pada siklus 1 rata-rata hasil belajar adalah 69,80 dengan ketercapaian ketuntasan hasil belajar
68% dari jumlah siswa yang mencapai KKM 60, dan kembali mengalami peningkatan
pada sikus 2 rata-rata hasil belajar adalah 86,48 dengan ketercapaian ketuntasan hasil belajar 88% dari jumlah siswa yang mencapai KKM 60. Hal
tersebut menunjukan bahwa penelitian telah berhasil meningkatkan hasil belajar
Ilmu Pengetahuan Alam, selain itu penggunaan
metode Inkuiry juga
dapat meningkatkan kualitas kinerja mahasiswa dan
aktivitas siswa dalam pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
...........(2011) Pedoman Akademik, STKIP Bina Mutiara
Sukabumi
............2012. Pedoman Penulisan skripsi. STKIP Bina
Mutiara, STKIP Bina Mutiara Sukabumi.
Anni, Catharina Tri. 2004. Psikologi Belajar.Semarang : Unnes Press.
Arikunto dkk, (2009:2)
Hamalik. O.. 1993. Metode dan Kesulitan Belajar. Bandung : Tarsito.
Jauhar, Mohamad.2011.Implementasikan Paikem dari Behavioristik sampai
Konstruktivistik.Jakarta : Prestasi Pustakaraya.
Mujiono, D.. 1994. Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta : Dirjen Dikti
Depdikbud.
Purwanto, Ngalim. 1997. Psikolog Pendidikan. Bandung : Remaha Rosdakarya.
Sanjaya, W.. 2007. Strategi
Pembelajaran, Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Sardiman. 1992.Proses
Belajar Mengajar. Jakarta
: P2LPTK.
Satmoko. 2000. Penilaian
Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Sugiyarti,CH.
2013. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar
Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam tentang Kerangka Tubuh Manusia melalui
Metode Inquiri pada Siswa Kelas IV SDN Bojonggadog. Ciemas
Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Kurikulum Pendidikan Dasar. Jakarta : Depdiknas.
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Kamus
Besar Bahasa Indonesia.Jakarta : Balai Pustaka.
https://himitsuqalbu.wordpress.com/2013/07/27/defenisi-belajar-menurut-para-ahli/

0 komentar:
Posting Komentar